Ikhlaslah Dalam Beramal
![]() |
| Photo by Andrew Small on Unsplash |
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أنّ محمّدًا عبده ورسوله وبعد
Hal mendasar yang paling penting di dalam agama Islam yang mulia ini adalah : merealisasikan keikhlasan di dalam semua ibadah hanya untuk Allah Ta’ala semata.
Sebagaian ‘Ulama berkata tentang hakikat keikhlasan : “Keikhlasan itu adalah tatkala engkau tidak mencari saksi dan pemberi balasan terhadap setiap amal yang engkau kerjakan selain Allah Ta’ala”.
Keikhlasan adalah esensi agama dan kunci da’wah seluruh Rasul ‘alaihimussalam.
Allah Ta’ala berfirman :
وَ مَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka ber’ibadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan ‘ibadah itu hanya untuk-Nya” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Hidup ini adalah ujian, dimana Allah Ta’ala menguji hamba-Nya (sedangkan Allah Maha Tahu) siapakah di antara hamba-Nya yang paling baik amal ibadahnya.
Allah Ta’ala berfirman :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“(Allah) Dzat Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amal (ibadah)nya” (QS. Al-Mulk : 2)
Al Fudhail Bin ‘Iyadh rahimahullah berkata (di dalam menafsirkan ayat di atas) : “Paling baik amal (‘ibadah) nya, maksudnya adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai (dengan syari’at)”.
Hal tersebut dikarenakan amal ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala kecuali dengan memenuhi dua syarat :
- Amal ibadah tersebut muwafiq / sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala .
- Amal ibadah tersebut khalis / murni ditujukan untuk Allah Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ)) عائشة : مسلم))
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syari’at kami (berbuat bid’ah yang munkar) maka amalannya tersebut tertolak.”
(HR. Muslim)
(HR. Muslim)
Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إنما الأعمال بالنيّات)) عمر : البخاري ومسلم))
“Sesungguhnya amalan-amalan itu (diterima-tidaknya atau berpahala-tidaknya) tergantung kepada niat (pelaku) nya.“
(HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
(HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Keikhlasan merupakan wasiat paling berharga dari Allah Ta’ala kepada ummat ini dan juga kepada ummat-ummat sebelumnya[1]. Ia merupakan amalan hati. Bahkan amalan badan tidak bermanfaat tanpa amalan hati, buktinya kasus orang-orang munafik tempo dulu, di mana orang-orang yang beriman di Al Madinah tidak dapat mengenali mereka karena kekufuran dan kedengkian mereka tersembunyi di dalam hati mereka dan tidak nampak pada badan atau lahiriah mereka, sebaliknya mereka justru berpura-pura beriman dengan menampakkan amalan-amalan badan. Oleh karena itu amalan hati ini menjadi lebih wajib dari sekedar amalan badan semata; karena ia harus tetap ada di setiap waktu.
Berikut ini beberapa perkataan ‘Ulama Salaf rahimahumullah terkait masalah keikhlasan :
Al Fudhail rahimahullah berkata :
“Barang siapa yang tidak jadi beramal karena pertimbangan manusia maka itu merupakan perbuatan riya`, dan barang siapa yang beramal untuk manusia maka itu merupakan perbuatan syirik, sedangkan ikhlas adalah : engkau selamat (dengan izin Allah) dari dua hal tersebut”.
“Barang siapa yang tidak jadi beramal karena pertimbangan manusia maka itu merupakan perbuatan riya`, dan barang siapa yang beramal untuk manusia maka itu merupakan perbuatan syirik, sedangkan ikhlas adalah : engkau selamat (dengan izin Allah) dari dua hal tersebut”.
Sufyan al Tsauriy rahimahullah berkata :
“Tidak ada satu hal yang paling sulit untuk aku atasi kecuali memperbaiki niatku, sesungguhnya ia (niat) berubah-ubah pada diriku”.
“Tidak ada satu hal yang paling sulit untuk aku atasi kecuali memperbaiki niatku, sesungguhnya ia (niat) berubah-ubah pada diriku”.
Salah seorang Salaf rahimahullah berkata :
“Jika seorang hamba dapat berbuat ikhlas maka hilanglah darinya berbagai bisikan dan riya`”.
“Jika seorang hamba dapat berbuat ikhlas maka hilanglah darinya berbagai bisikan dan riya`”.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik agar kita dapat menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas di dalam setiap ibadah kepada-Nya. Aamiin.
Referensi Utama :
- Al Tafsir al Muyassar
- Al Wafi Syarh al Arba’in an Nawawiyyah
- Al Durar al Muntaqah Min al Kalimat al Mulqah
- Mu’jam al Ma’ani
ولد محمود
[Kamaluddin Najmuddin Al Indunisiy hafizhahullah]
[Kamaluddin Najmuddin Al Indunisiy hafizhahullah]

Leave a Comment